Inspirasi

BIAR NGGAK TERGERUS PASANG SURUT TREN

By putri • 01 Jul 2019

DISABLE YOGYAKARTA

#InspirasiQasir

Bikin usaha mungkin nggak gampang, tapi mempertahankan usaha, itu lebih nggak gampang lagi. Ervina Yuliati, seorang pengusaha clothing line “Disable” yang juga user Qasir dari Yogyakarta, menceritakan gimana kunci mempertahankan bisnis biar nggak tergerus pasang surut tren.

Sejak kapan Disable berdiri?

Disable berdiri sejak Juli 2010,  jadi tahun ini sudah 9 tahun. Tapi kita baru punya store sendiri November  2014. Sebelumnya konsinyasi ke toko-toko yang sudah lebih dulu ada.

Kenapa namanya Disable?

Awal mulanya bikin brand Disable, kita hanya ingin bikin brand yang mudah diingat. Lagi pula nama Disable belum ada yang pakai, mungkin orang berfikir konotasinya negatif ya.

Mengapa bikin usaha clothing?

Mungkin karena dulu saya hobinya jajan ke distro. Tiap weekend saya selalu jajan baju. Tahun 2007 adik saya bikin distro, saya pun ikutan bantu. Lama-lama adik saya nggak lanjut, malah saya yang keterusan. Sampai sekarang.

Bisnis distro kan sempat ramai, tapi sekarang banyak juga yang gulung tikar. Bagaimana cara Disable tetap bertahan?

Iya, waktu Disable lahir, di Yogja aja ada 50-an brand clothing.  Itu yang tercatat. Yang nggak tercatat bahkan lebih dari itu. Tapi lama-kelamaan makin sedikit yang bertahan.

Saking banyaknya usaha clothing, tahun 2012 untuk cari toko saja kita susah. Bahkan sampai harus waiting list. Tapi saya nggak mau ngoyo, kita bersabar saja. Sambil fokus membesarkan aset.

Tahun 2014, mulai banyak distro yang tutup. Di situ kami justru bisa memiliki toko, dengan aset yang sudah terkelola baik. Sekarang, kami sudah punya dua toko sendiri di Yogya dan Solo, juga beberapa titik konsinyasi. Rahasianya karena kami nggak terlau heboh di awal, pelan-pelan nggak apa-apa, yang penting konsisten.

Kapan pertama kali merasa perlu sistem POS?

Waktu buka toko, sampai dua tahun pertama kita masih pakai sistem  manual. Pas lebaran transaksi membludak. Kita kewalahan. Akhirnya pakai POS custom. Tapi harganya mahal. Orangnya (yang bikin) juga tiba-tiba menghilang.  Akhirnya kami cari-cari POS yang sudah jadi dari play store. Setelah riset sendiri dan tanya sana-sini, akhirnya nyoba Qasir. Pertama tertarik karena simpelnya. Mudah dimengerti sistemnya, mudah juga mengoperasikannya. Lalu gratisnya itu, sesuatu banget!

Soalnya ada teman saya bukan tiga toko, dia harus keluar uang sampai 50 juta rupiah untuk POS berbayar. Sedangkan saya pakai Qasir, gratis. Nggak keluar biaya. Ya pasti saya seneng banget.

Ada tips untuk pelaku usaha serupa?

Yang terpenting, pengelolaan usaha harus rapi dan detail. Apa lagi kalau sudah buka cabang. Yang juga tak kalah penting, kita harus tahu siklus. Kalau kami, bulan 2, 3, dan 4 penjualannya kan biasanya lebih kecil,  justru di bulan itu saatnya kita prepare stock untuk musim ramai, yaitu lebaran dan natal. Jadi begitu jelang musim ramai, kita nggak kelabakan.

Selain itu kita juga mesti tahu kemampuan produksi kita. Misalnya kita  cuma mampu bikin 60 pcs per artikel,  jangan memaksa sanggupi order 100 pcs tapi kualitas diturunkan.  Kuncinya adalah, jangan terlalu ambisi di awal. Yang penting konsisten. Satu lagi yang terpenting, utamakan kualitas, bukan sekadar kuantiti.

Dan urusan pencatatan dan transaksi serahkan pada Qasir. Download gratis di http://bit.ly/blogQasir