Studi Kasus

Inspirasi Bisnis: Cukur Rambut Tanpa Mesin Ala Cutbox Hair Studio

12 Sep 2019, Ditulis oleh putri

Inspirasi Bisnis: Cukur Rambut Tanpa Mesin Ala Cutbox Hair Studio

Beberapa tahun belakangan ini, usaha barbershop jadi bisnis yang cukup sexy dan menggoda. Tapi Bima Putra owner Cutbox Hair Studio mengklaim kalau usahanya bukanlah barbershop. Kalau bukan, lantas apa bedanya Cutbox dan barbershop?

Kepada Qasir, Bima menceritakan pengalamannya membesarkan kembali nama Cutbox yang sudah berdiri sejak tahun 90-an melalui rebranding. Yuk simak kisah inspiratifnya!

 

Rebranding lebih sulit dibanding membangun bisnis dari nol

 

Bisa dibilang, Cutbox Gentleman Hair Studio bukan lah pemain baru dalam urusan cukur rambut. Cutbox telah didirikan sejak tahun 1999 oleh Yosi, founder lainnya sebelum Bima yang juga menjadi senior hair stylist di Cutbox.

 

“Sekarang kita memang lagi rebranding dan reconcepting. Sekarang ini baru jalan dua bulan. Saya masuk sebagai salah satu owner yang membawa konsep baru ini,” ujar Bima.

 

Menurutnya, berdasarkan pengalaman, proses rebranding lebih sulit dibanding dengan membangun bisnis dari nol. Karena ia harus mencocokkan kemauannya dengan kemauan owner yang lama. Dengan konsep yang ia bawa, Bima mencoba meremajakan Cutbox yang sudah hadir selama 20 tahun ini. Salah satunya adalah menerapkan teknologi dengan aplikasi Qasir. 

 

Cukur rambut sekaligus edukasi pada pelanggan

 

Ada yang unik dari Cutbox. Jika selama ini kamu dicukur menggunakan mesin, di Cutbox kamu hanya akan dilayani menggunakan gunting khusus untuk hasil yang lebih presisi serta natural. Ssst...para kapsternya pun semuanya cewek, lho.

 

“Kita unik banget. Kita di sini nggak pake mesin. Kita pakai gunting dan guntingnya cuma satu macam yang kita custom sendiri. Bukan pakai gunting sasak. Kita punya metode sendiri. Jenis metodenya seperti memahat,” ujar Bima.

 

Alasan Cutbox untuk tidak menggunakan mesin sendiri karena mereka ingin memberikan edukasi kepada para pelanggan bahwa kepala orang Asia itu kurang cocok jika harus potong rambut menggunakan mesin. Menurut Bima, kepala orang Asia tingginya dari rahang ke atas itu hanya 14 cm rata-rata dan bentuknya cembung di kanan-kiri. Berbeda dengan bule yang bisa mencapai 18 cm. Ketika dicukur menggunakan mesin, hasilnya akan terlalu kaku dan tidak terlihat natural. Sehingga menurutnya, penggunaan gunting lah yang paling tepat karena hasilnya lebih natural.

 

Bima pun menegaskan bahwa Cutbox lebih cocok dibilang sebagai hair studio ketimbang barbershop. Ia berpendapat bahwa banyak pelanggan yang datang ke sini belum mengetahui ingin gaya rambut yang seperti apa. Ketika mereka menjelaskan, hairstylist Cutbox nantinya akan membuatkan potongan rambut yang sesuai dan cocok dengan kontur wajah dari masing-masing pelanggan. Dengan harga Rp100 ribu, pelanggan akan mendapatkan potongan rambut berdasarkan saran dari hairstylist yang sudah berpengalaman di bidangnya.

 

Beralih ke Qasir

 

Nah, untuk memudahkan transaksi, Bima akhirnya memutuskan mengadopsi sistem POS dalam unit usahanya. Sehingga selama dua bulan proses rebranding ini berjalan, ia memilih untuk menggunakan Qasir karena mudah digunakan menggunakan smartphone. Ia memutuskan untuk menggunakan Qasir berdasarkan review dari para pengguna di PlayStore.

“Setelah jalan seminggu, ternyata Qasir smooth banget pengoperasiannya. Aplikasi ini ngebantu banget sih karena gratis, sehingga bisa membantu saya menekan budget,” ujar Bima.

 

 

 

 

 

Share artikel ini