Studi Kasus

Setahun Covid-19, Apa Kabar Bisnis Baru yang Bermunculan di Awal Pandemi?

05 Mar 2021, Ditulis oleh Bentangku

Setahun Covid-19, Apa Kabar Bisnis Baru yang Bermunculan di Awal Pandemi?

Masihkah kamu ingat kejadian setahun lalu, 2 Maret 2021, saat Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama infeksi virus Corona atau Covid-19 di Indonesia?

Ada dua warga Depok, Jawa Barat yang tertular Covid-19 saat berinteraksi dengan warga negara Jepang di sebuah pesta dansa. Warga Jepang ini dinyatakan positif Covid-19 saat kembali ke negara domisilinya di Malaysia.

Kecemasan semakin menghantui ketika angka kasus Covid-19 di Tanah Air melonjak menjadi 1.790 orang pada Kamis 2 April 2020 dan 170 orang di antaranya meninggal dunia. Meski 112 orang di antaranya dinyatakan sembuh.

Pertengahan Maret, imbauan untuk berada di rumah mulai digaungkan.

Tepat pada Selasa 31 Maret 2020, Jokowi memutuskan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). PSBB diberlakukan karena menilik status kedaruratan kesehatan masyarakat akibat virus Corona.

“Kita telah memutuskan dalam ratas kabinet bahwa opsi yang kita pilih adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB,” kata Jokowi saat itu.

Sejumlah kepala daerah pun mengajukan permohonan PSBB ke Menteri Kesehatan. Salah satunya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. PSBB Jakarta mulai berlaku pada 10 April 2020. Anies pun membatasi sejumlah kegiatan masyarakat, termasuk operasional sejumlah tempat usaha.

Alhasil, sejumlah tempat usaha mengalami hantaman ekonomi. Sejumlah tempat usaha dan perusahaan gulung tikar. Lainnya harus merumahkan pegawainya sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Ada pula yang memutuskan hubungan kerja.

Banyaknya lay off dan ketidakpastian pekerjaan ini membuat masyarakat memutar otak untuk mendapatkan penghasilan lain. Oleh karena itu, banyak bermunculan pelaku bisnis baru di Tanah Air di tengah pandemi Covid-19.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Profesor Ina Primiana membenarkan, desakan ekonomi lah yang membuat pebisnis baru bermunculan dengan cepat kala pandemi. Tak perlu berpikir lama dan banyak perhitungan, masyarakat cepat mencari “sekoci”.

“Mereka itu berbisnis beda antara saat pandemi dan sebelumnya. Sekarang masyarakat cenderung membuat keputusan lebih cepat. Pendapatan yang berkurang karena di-PHK misalnya, membuat mereka cepat membuka bisnis. Tapi kalau sebelum pandemi, dihitung dulu, disurvei dulu,” ucap Ina ketika dihubungi Qasir, Kamis (4/3/2021).

Berdasarkan pengamatannya, bisnis baru yang paling banyak bermunculan kala pandemi adalah bisnis makanan dan minuman.

Hanya saja, kali ini, mereka tidak membuka warung. Pebisnis baru tersebut memasarkan dagangannya melalui media sosial dan jejaringnya.

“Paling banyak itu bisnis makanan. Pandemi membuat banyak yang di-PHK. Mereka lalu banyak yang memilih untuk berjualan makanan atau minuman dan ditawarkan lewat Whatsapp misalkan. Itu tumbuh sekali ya,” ujar Ina.

Menurut dia, bisnis yang menjamur ketika awal pandemi adalah pembuatan alat pelindung diri (APD). Mulai dari masker hingga baju hazmat.

“Mereka ini biasanya dari pengusaha garment yang switch ke pembuatan APD karena pandemi,” kata Ina.

Selain itu, bisnis herbal menjamur. Menjaga imunitas tubuh merupakan salah satu cara ampuh untuk mencegah infeksi virus Corona lantaran ketiadaan obat Covid-19.

Jokowi pun pernah mengimbau agar masyarakat mengonsumsi empon-emponan. Alhasil, harga jahe merah, temulawak, dan kunyit sempat naik 3-5 kali lipat dari harga normal.

Kepala Seksi (KASI) Humas SMESCO Indonesia, Mirah Ayu juga pernah mengatakan, bidang usaha terkait kebutuhan dasar dan kesehatan makin banyak diminati ketika pandemi.

“Serta segala usaha berbasis digital baik produk jasa maupun cara penjualannya akan makin banyak diminati seperti Frozen food, minuman herbal, hand sanitizer, masker, serta travel kit untuk menunjang gaya hidup masyarakat yang mobile sepertinya akan paling banyak dicari baik saat dan setelah pandemi,” kata Mirah Ayu, November 2020 lalu.

Lalu, Apa Kabar Mereka Setahun Kemudian?

Ina menuturkan, bisnis kuliner yang muncul pada awal pandemi masih bertahan selama setahun ini. Meski barang dagangan mereka relatif sederhana, justru bisnis inilah yang kuat berdiri.

Bahkan, masih banyak pebisnis baru kuliner yang bermunculan pada saat ini. Persaingan yang semakin ketat tidak menyurutkan masyarakat memulai bisnis makanan dan minuman.

“Sampai sekarang juga masih tumbuh bisnis makanan dan minuman. Peminatnya pun ada saja. Misalnya ibu-ibu kompleks membuka pesanan makanan. Warga kompleks biasanya kan punya grup, dia tawarkan lah di situ dan yang jualan makanan tidak hanya satu orang. Mereka saling beli. Makanya di pelaku UMKM itu ada gerakan belanja tetangga, belanja teman,” tutur Ina.

Kondisi ini berbeda dengan bisnis APD. Saat ini, banyak pembuat APD yang mandek. Banyak dari mereka mengalami overstock produk.

“Mereka ini banyak yang overstock. Pemerintah juga enggak mau pakai, padahal mereka bikinnya sudah standar WHO. Ini belum ada solusinya sampai sekarang,” ungkap Ina.

Menurut dia, pengusaha yang mengalami overstock ini adalah pembuat baju hazmat.

“Di Bandung-Cimahi sendiri saja, menurut catatan saya, ada 40 industri kecil yang mengalami overstock,” kata Ina.

Tips Agar Bisnismu Mampu Bertahan di Tengah Pandemi

Ina mengatakan, setahun ini, semakin banyak masyarakat yang membuka bisnis. Akibatnya, persaingan semakin ketat.

Bisnis.com menyebutkan, kekhawatiran pemilik usaha kecil bertambah di tengah wabah Corona. Kekhawatiran baru muncul ini mendorong tekanan dan ketidakpastian ke tingkat baru.

Sebuah jajak pendapat Mei 2020, masih melansir Bisnis.com, membandingkan tingkat stres dan kekhawatiran pemilik usaha kecil sebelum Covid-19 dan selama pandemi. Baik peserta pria dan wanita mengalami kenaikan tingkat stres selama pandemi. Awalnya, 38% wanita mengalami stres harian sebelum Covid-19 menyerang, lalu meningkat menjadi 62% pada saat penelitian dilakukan.

Nah, bagaimana caranya agar bisnismu tetap langgeng di tengah banyaknya pesaing kala pandemi Covid-19 dan kamu terhindar dari stres?

Menurut Ina, ada dua kunci pokok yang harus kamu lakukan BossQ. Dua kunci itu adalah:

1. Terus Berinovasi

Banyaknya pesaing bisnis, mengharuskanmu berpikir untuk membuat produk yang berbeda dengan orang lain. Inovasi sangat dibutuhkan untuk membuat pembeda produkmu dengan yang lain.

“Orang jualan semakin banyak. Jadi harus berpikir jangan sampai jualan produk yang sama tanpa pembeda. Harus bed ajika ingin tetap dicari konsumen. Makanya sekarang ini banyak orang yang berjualan produk aneh-aneh,” tutur Ina.

Produk yang berbeda ini juga akan menaikkan nilai jual BossQ.

Ina mengingatkan, inovasi tidak boleh berhenti dilakukan. Jangan puas hanya sekali menciptakan inovasi. Sebab, bisa saja pesaingmu bakal meniru produkmu itu bukan? Bisa juga pesaingmu membuat inovasi yang lebih ciamik darimu.

2. Menjaga Kualitas Layanan

Menurut Ina, menjaga kualitas layanan sangat penting dalam berbisnis. Jangan sampai, lanjut dia, apa yang kamu janjikan berbeda dengan kenyataan. Hal ini akan membuat konsumen kecewa dan memilih tidak membeli kembali produk atau jasa yang kamu tawarkan.

“Kualitas juga harus dijaga. Lalu layanannya, misalkan pengiriman harus on time. Jika berjualan makanan, rasanya harus dijaga. Apalagi ketika pelanggannya semakin banyak, layanan harus semakin ditingkatkan agar tidak membuat pelanggan kecewa,” ujar Ina.

Baca juga:

Share artikel ini